Home » APA AJA » Tidak Ada yang Kebetulan

Tidak Ada yang Kebetulan

Siapa yang tidak ingin punya rumah bagus dengan lingkungan islami (minimal baik) dan letaknya strategis? Tentu banyak yang menginginkannya.
Kami sekarang menetap di salah satu desa di Kab. Bandung. Rumahnya minimalis (tidak besar dan sangat standart). Lingkungan yang cukup ramah, namun masih jauh dari islami meski kegiatan belajar mengajar ngaji berlangsung. Letaknya pun cukup jauh dari jalan utama. Alhamdulillaah, sangat sangat bersyukur. Pernah punya keinginan tinggal di gunung. Dan Alhamdulillaah sekarang terwujud. Walau tidak benar-benar di pegunungan.

Apakah ini kebetulan?

Tidak, sungguh tidak ada yang kebetulan yang terjadi di muka bumi ini. Malam tahun baru yang sangat berisik, petasan, motor lalu lalang, panggung dangdut. Masyaa Allah, sungguh malam yang mungkin paling berisik dalam hidup saya selama melewati malam tahun baru masehi. Di lain waktu, beberapa kali tamu datang. Dan sungguh diluar dugaan ada tamu yang membuka pintu rumah kami karena balasan salam yang mungkin tidak terdengar keluar (maklum belum ada pagar). Saya sempat shocked karena masih menggunakan pakaian tidak pantas, tapi berusaha tenang. Masih alhadmulillaah yang membuka pintu adalah seorang ibu-ibu. Ingin marah rasanya, tapi masih saya tahan. Di lain hari, kali ini seorang bapak-bapak yang bertamu. Tidak membuka pintu memang, tapi mengintip dari jendela. Innaalillaahi. Rasanya ingin marah, geram.

Beberapa waktu kemudian, kami diberi rezeki bisa membuat pagar dari bambu. Ya bambu, bukan batu bata dan besi. Diluar pengetahuan kami ternayata pagar bambu kami jadi tempat mainan halang rintang anak-anak. Ada yang jadikan kuda-kudaan, ada yang jadikan ayunan dan lain-lain. Alhasil, pondasi pagar retak-retak karena kelebihan beban.

Masyaa Allah, bukan, bukan kami tak ingin melihat anak-anak itu bahagia. Bukan kami pelit. Tapi pengajaran menjaga milik orang lain, pengajaran untuk meminjam atau minta izin tidak tertanam sama sekali.

Ya, tidak ada yang kebetulan. Inilah jalan Allah untuk kami. Allah lah yang menuntun kami berada di lingkungan ini. Dan hanya ada 2 pilihan untuk kami.

Mengeluh, marah atau mengajak untuk berubah.
Hidayah adalah hak prerogatif Allah. Namun mengajak pada kebaikkan adalah kewajiban seorang muslim. Semoga disini adalah ladang amal kami. Tempat kami belajar.

Bismillaah..
Bukan, bukan karena kami adalah keluarga yang sempurna. Jauh, kami masih jauh dari baik dan kami masih sangat perlu banyak belajar.

Ummu Kafaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>